BPBD Sragen Tingkatkan Kewaspadaan Bencana Melalui Penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana)

SRAGEN - Kabupaten Sragen memiliki sejumlah potensi bencana alam yang perlu diantisipasi secara serius. Meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga kekeringan saat musim kemarau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen terus meningkatkan kewaspadaan serta upaya mitigasi bencana guna mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan. BPBD Kabupaten Sragen mencatat, wilayah yang berada di sekitar aliran Bengawan Solo menjadi daerah yang rawan banjir, terutama saat curah hujan tinggi.

Sementara itu, daerah perbukitan juga memiliki potensi tanah longsor, sedangkan kekeringan kerap terjadi di sejumlah wilayah saat musim kemarau panjang.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Sragen, Danang Hermawan, S.H., kepada Reporter Radio Buana Asri Sragen menyampaikan, sebagai langkah antisipasi kewaspadaan bencana, BPBD Sragen melakukan pemetaan wilayah rawan bencana, pemantauan kondisi cuaca, serta peningkatan koordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait.

Sosialisasi dan edukasi kebencanaan juga terus dilakukan agar masyarakat memiliki pemahaman dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana. Salah satu upaya strategis yang dilakukan BPBD Sragen adalah penguatan peran Desa Tangguh Bencana atau Destana.

Program Destana bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat desa agar mampu mengenali ancaman bencana, melakukan upaya pencegahan, serta siap menghadapi dan menangani bencana secara mandiri di tingkat desa.

Saat ini BPBD Sragen memetakan sebanyak 44 desa dan kelurahan di Kabupaten Sragen yang rawan banjir dan rawan bencana setiap musim penghujan. Puluhan wilayah tersebut telah membentuk Desa atau Kelurahan Tangguh Bencana sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Melalui Destana, masyarakat dibekali pelatihan kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga pembentukan relawan desa. Selain itu, desa juga didorong untuk memiliki sistem peringatan dini dan rencana penanggulangan bencana yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Danang Hermawan, S.H., mengungkapkan bahwa bencana di Sragen telah kami petakan dan ada delapan potensi bencana dalam dokumen rescue dan sudah diperbupkan. Meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, wabah penyakit, angin kencang, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gempa. Tiga potensi bencana yang menjadi prioritas yaitu banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Kami telah berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD Jawa Tengah membentuk Destana.

 

Reporter: Dewi Ratih

Baca Juga